Queen Elizabeth II, phinisi, and Singapore.
Queen Elizabeth II, phinisi, and Singapore.
[REPORTASE SPESIAL ISRA’ MI’RAJ]
Setiap tahun, pada peringatan hari suci macam Isra’ Mi’raj, kita pasti disuguhi dengan cerita mengenai kendaraan yang membawa Nabi Muhammad melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Masjidil Aqsha (Yerusalem) dan Sidratul Muntaha (langit ketujuh). Yup, hewan yang di dalam literatur shahih disebut dengan nama buraq (yang berarti “kilat”) ini berbentuk seperti campuran antara baghal (anak keledai) dan kuda, berwarna putih bagai salju, serta memiliki sayap. Tidak ada detail lain tentang mahluk ini selain bahwa kecepatannya benar-benar “sejauh mata memandang”.
Yang jadi pertanyaan kemudian, mengapa dalam banyak literatur yang memuat kisah Isra’ Miraj Nabi Muhammad dengan tunggangan bernama buraq ini digambarkan seperti berikut:

Mahluk dengan sayap burung, berkepala perempuan, bermahkota, dan terkadang digambarkan pula berekor seperti bulu merak. Dari mana datangnya gambar-gambar seperti ini? Guru ngaji saya waktu kecil dulu pernah bercerita bahwa gambar-gambar tersebut adalah propoganda Zionis untuk menjelek-jelekkan citra Sang Nabi yang seorang ‘polygamist’, dengan cara memasang wajah perempuan sebagai tunggangannya. Benarkah demikian? Selidik punya selidik ternyata budaya menggambarkan buraq dengan wajah perempuan sudah ada sejak abad ke-15, bahkan sudah muncul di dalam buku-buku bergambar Persia yang jauh lebih awal. Konon bentuk buraq yang seperti ini adalah pinjaman dari kebudayaan India (Hindu) ketika Islam mulai memasuki anak benua. Tidak percaya? Nih buktinya ada patung “buraq” yang ternyata merupakan sejenis “kamadhenu” alias mahluk nirwana yang berkepala wanita, berbadan sapi dan bersayap burung.
Di saat imaji “buraq berkepala wanita” seperti ini populer di kalangan dunia Muslim seperti di Iran, Turki, Asia Tengah, India dan bahkan Indonesia, di Jerman yang jelas-jelas bukan negara dimana Islam pernah berpengaruh dalam kehidupan warganya justru menangkap gambar buraq dengan akurasi nan lebih sesuai dengan gambaran hadis. Ini adalah contoh gambar Sang Nabi yang sedang bersama malaikat Jibril menaiki “Tangga Yakub” menuju ke Sidratul Muntaha, tentu saja dengan menunggangi buraq. Buraq digambarkan dengan begitu sederhana: seekor kuda putih kecil yang bisa terbang. Terlepas dari kontroversi bahwa Sang Nabi ‘digambar dengan wajah’ pada ilustrasi ini, point-nya adalah buraq karya pelukis Jerman jauh lebih “islami” dibandingkan buraq dari dunia Muslim itu sendiri.

Saya pribadi tidak ada masalah dengan kedua pencitraan buraq di atas. Bagi saya sebenarnya buraq yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu merupakan bukti akulturasi budaya ketika Islam memasuki Anak Benua ratusan tahun yang lalu. Sebagian orang (seperti guru ngaji saya) mungkin saja akan berjengit melihat gambar yang menurutnya menistakan itu, tapi jika dipahami secara seni dan filosofi secara lebih dalam, sebenarnya kemunculan imaji buraq India tersebut jauh dari niatan blasphemy.
Demikian pula dengan buraq versi Jerman (yang sebenarnya adalah bagian dari sebuah kartu iklan berseri untuk sejenis makanan). Sederhana, tapi mengena, sesuai gambaran hadis. Si pelukis yang pada zaman itu belum mengenal google kemungkinan mengambil referensi tentang Isra’ Mi’raj langsung dari hadis-hadis terkait, tanpa menilik ke tradisi kaum Muslimin di berbagai belahan dunia.
Oh well, itulah indahnya melihat dengan berbagai sudut pandang. Isra’ Mi’raj yang di kampung saya di Sulawesi Selatan disebut dengan nama “Mammeraje” alias hari me-Mi’raj dirayakan oleh Barazanji alias sholawat dan kisah Sang Nabi dalam campuran Bahasa Arab dan Bugis mengingatkan kita semua bahwa “untuk berislam itu tidak harus dengan menjadi Arab.” Yup, itulah yang sering dilupakan oleh banyak kaum Muslim hari ini. Kalau belum jenggotan dan bercelana gantung rasanya belum Islam.
Jadi, bagaimana kah gambaran kita di Indonesia terhadap mahluk bernama buraq ini? Wow, bahkan lebih mengejutkan. Seekor hewan campuran antara manusia (pria berkumis!), burung, kuda dan entah Tuhan yang tahu apa lagi, dengan hiasan luarbiasa yang hanya bisa dikalahkan oleh eksentriknya Lady Gaga. Mengutip tulisan Sonia Kolesnikov-Jessop di The New York Times terkait penggambaran tersebut:
In a watercolor painting now on display at the Asian Civilizations Museum in Singapore, the Buraq is wearing Dutch clogs on its hooves along with traditional Southeast Asian gelang kaki anklets. The beast carries Islamic royal regalia in a canopy on its back, while two flying birds, similar to a Chinese phoenix, hover above him. To his side, there is a palm tree reminiscent of the Tree of Life motif, which is commonly found in Southeast Asian cultures.
Such an eclectic range of multicultural detail is unusual, especially in a painting that dates from the early 20th century. But this lively watercolor was painted in Aceh, on the island of Sumatra, and such details mirror the various cross-cultural influences on the Indonesian island for more than 2,500 years.
Inilah dia buraq oleh Teuku Teungan Aceh.

“Lul, mau kemana abis lulus?” tanya seorang teman.
Kerja?
Lanjut kuliah?
Nganggur setahun?
Tiga-tiganya? (yakale bisa)
Hmmm… jawabannya… setelah pesan-pesan berikut :3
Sunlight on the Moon
The moon orbits the earth with a period of four weeks ( a month) and during the orbit it always has the same side facing the earth. So this means that on the moon there is day and night, but they are both two weeks long instead of 24 hours.
The Moon’s daylight is brighter and harsher than the Earth’s. There is no atmosphere to scatter the light, no clouds to shade it, and no ozone layer to block the sunburning ultraviolet light.
The nights are also brighter, at least on the side of the Moon near to us. The night is lit up by sunlight reflected from Earth, while the night on Earth is lit up by sunlight reflected from the Moon. Earth is much bigger than the Moon, and Earth is also more reflective (with its clouds and oceans, it reflects more light than the dark Moon rocks). Earthlight on the Moon is much brighter than Moonlight on the Earth.
Credit: Jeff Silvis and David Palmer
(via itsfullofstars)
President Sukarno requested that his pavilion be “dramatically placed” between those of the United States and the Soviet Union, to represent Indonesia’s neutrality in the Cold War
Paviliun Indonesia di New York World’s Fair 1964.